Tuesday, February 22, 2011

AL QURAN Braille

assalammualikum dan morning semua huh pagi ni aku nak nak bagitahu korang tentang Braille AL QURAN  ni huh taw kan apa tu Braille? Braille tu adalah untuk orang yang buta atau lebih sedap didengar orang yang tak celik penglihatannya. Semalam aku tengok cerita Hani kat TV3 tu huh baru aku tahu yang AL QURAN braille ni hanya ada 1 kat malaysia pada masa dulu nak tahu lebih lajut klik sini BRAILLE, bagi memberi peluang kepada yang cacat penglihatan untuk membaca AL QURAN braille PERTIS ( Persatuan Orang Cacat Penglihatan Islam Malaysia ) memperkenalkan AL QURAN itu kepada ahli krususnya dan juga bukan ahli amnya. 

Korang kenal Louis Braille? 


huh meh aku cerita pasal dya,sejarah hidup dya ni pun agak sedih la dan dya jugalah yang memperkenalkan braille tu taw. 


Biografi Louis Braille (1809-1852)

Louis Braille dilahirkan pada 4 Januari 1809 di Coupvray, sebuah kota kecil di dekat Paris, Prancis. Ia tinggal bersama ayahnya, Simon Rene Braille dan ibunya, Monique, di sebuah rumah sederhana. Louis Braille mengalami kerosakan pada salah satu matanya ketika berusia 3 tahun. Waktu itu secara tidak sengaja dia menikam matanya sendiri dengan alat pembuat lubang dari perkakas kerja ayahnya. Kemudian mata yang satunya terkena sympathetic ophthalmia, kesan yang terjadi karena kerosakan mata yang lainnya. Kebutaan tidak membuatnya putus asa, ia menciptakan abjad Braille yang membantu orang buta membaca.

Infeksi di sebelah matanya yang terluka segera menjalar ke sebelah mata lainnya dan mengakibatkan kebutaan total pada kedua matanya.

Meskipun tidak boleh melihat, Louis  berhasil menunjukkan kemahuan yang kuat untuk belajar. Orang tua Louis bersama guru sekolah setempat melihat potensi yang besar pada dirinya. Oleh kerana itu, ketika memasuki usia sekolah, ia diizinkan mengikuti pelajaran di kelas  bersama teman-temannya yang berpenglihatan normal –dengan mengandalkan indra pendengaran. Ternyata, ia dapat mengikuti pelajaran dengan baik. Satu-satunya kendala, ia tidak dapat membaca dan menulis pelajaran kecuali sebatas mendengarkan apa yang disampaikan gurunya secara lisan.

Pada usia 10 tahun, ia memperoleh biasiswa untuk belajar pada Royal Institution for Blind Youth di Paris, sebuah lembaga pendidikan khusus untuk anak-anak tunanetra. Di sana, ia belajar membaca huruf-huruf yang dicetak timbul pada kertas dengan cara merabanya. Pada sekolah ini juga terdapat beberapa buku dengan sistem cetak timbul yang disediakan oleh pendiri sekolah, Valentin Hauy. Buku-buku ini memuat huruf-huruf berukuran besar yang dicetak timbul pada setiap halamannya. Kerana ukuran huruf-hurufnya yang besar, ukuran bukunya pun terbilang besar sehingga harganya sangat mahal. Sekolahnya hanya memiliki 14 buku seperti ini.

Louis  dengan penuh kesabaran berhasil ”melahap” semua buku itu di perpustakaan sekolahnya. Louis Braille dapat merasakan setiap huruf yang dicetak timbul pada buku-buku itu, tetapi cukup menyita waktu untuk dapat membaca dan memahami setiap kalimatnya. Dibutuhkan waktu beberapa detik untuk mengidentifikasi satu kata dan ketika telah sampai pada akhir kalimat, ia sering lupa tentang apa yang telah dibacanya pada awal kalimat. Louis yakin pasti ada cara yang lebih mudah sehingga kaum tunanetra dapat membaca secepat dan semudah orang yang dapat melihat.

Suatu hari pada 1821, seorang kapten angkatan bersenjata Prancis, Charles Barbier, berkunjung ke sekolah Louis. Barbier mempresentasikan penemuannya yang dinamakan night writing (tulisan malam), sebuah kode yang memungkinkan pasukannya berbagi informasi rahasia di medan perang tanpa perlu berbicara atau menyalakan cahaya senter untuk membacanya. Kode ini terdiri atas 12 titik timbul yang dapat dikombinasikan untuk mewakili huruf-huruf dan dapat dirasakan oleh ujung-ujung jari.

Sayangnya, kode ini terlalu rumit bagi sebagian besar pasukannya sehingga ditolak untuk digunakan secara resmi di kesatuannya, tetapi tidak bagi pelajar tunanetra berusia 12 tahun, Louis Braille. Louis muda segera menyadari betapa sistem titik timbul ini akan sangat berguna jika ia berhasil menyederhanakannya. Setelah kunjungan Barbier, ia serius bereksperimen dengan menghasilkan sistem-sistem titik timbul yang berbeda. Dalam tiga tahun, pada usia 15 tahun, akhirnya ia berhasil membangun satu sistem ideal yang sekarang dinamakan huruf braille, menggunakan satu sel 6 titik dan didasarkan ejaan normal.

kode braille





Setiap karakter atau sel braille tediri atas enam posisi titik yang disusun dalam dua kolom yang masing-masing mengandung tiga posisi titik sehingga membentuk persegi panjang. Satu titik atau lebih mungkin ditimbulkan pada salah satu atau beberapa dari keenam posisi titik itu untuk mewakili huruf alfabet, tanda baca, atau bilangan tertentu. Louis Braille menemukan 63 kombinasi susunan titik timbul yang mungkin. Apakah ia berhenti sampai di sini?

 
Tidak. Ia bahkan terus mengembangkan sistem ini pada tahun-tahun berikutnya dan berhasil menambahkan simbol-simbol untuk matematika dan musik. Pada 1829, Louis Braille menerbitkan Method of Writing Words, Music and Plain Song by Means of Dots, for Use by the Blind and Arranged by Them, buku braille pertama yang pernah terbit di dunia. Kaum tunanetra membaca tulisan braille dengan menggerakkan ujung-ujung jari mereka di atas titik-titik yang timbul itu. Mereka dapat menulis huruf braille pada suatu kertas di atas mesin 6 kunci yang dinamakan braillewriter (penulis braille) dengan menggunakan stytus, alat semacam bolpoin tanpa tinta yang ujungnya runcing.

Akhirnya, Louis Braille menjadi guru pada sekolah tempat ia pernah menjadi murid, Royal Institusion for Blind Youth. la menjadi guru yang disukai dan dihormati murid-muridnya. Tetapi sayang, ia tidak sempat melihat sistem baca-tulis temuannya digunakan secara luas di seluruh dunia. Pada 6 Januari 1852, di usia yang ke-43, ia meninggal karena serangan TBC.

Pada mulanya, orang tidak berpikir bahwa kode braille merupakan sesuatu yang berguna untuk kaum tunanetra. Banyak orang yang menduga sistem braille akan mati sebagaimana penemunya. Bersyukur ada sedikit orang yang menyadari pentingnya penemuan Louis Braille. Pada 1868, Dr. Thomas Armitage memimpin sekelompok orang tunanetra – yang terdiri atas empat orang  mendirikan lembaga untuk mengembangkan dan menyebarkan sistem temuan Louis Braille.

 
Kelompok kecil ini terus tumbuh dan berkembang menjadi Royal National Institute of the Blind (RNIB), yang sekarang dikenal sebagai penerbit terbesar buku-buku braille di Eropa. Penemuan brilian Louis Braille telah mengubah dunia membaca dan menulis kaum tunanetra untuk selamanya. Sekarang, kode braille telah diadaptasi hampir ke dalam semua bahasa tulis terkenal di dunia. Louis telah membuktikan bahwa dengan motivasi yang kuat, kita dapat melakukan hal yang sebelumnya tidak masuk akal.


sumber : PERTIS                         
             CORETAN
             SEJARAH LOUISE BRAILLE

P/S : Marilah kita memberi sokongan pada mereka kerana mereka pun mampu untuk melakukan apa yang orang celik mampu buat janganlah kita sisihkan mereka ini.

6 comments:

apezs shah said...

salam

efa pajangnya, tak mampo nak baca sgt hehe.. tapi info yg atas tu sempat la nak baca hehe.. sorry xdpt nak habiskan heeh.. pjg benor..

aibaks said...

klu berusaha.. insyaAllah.. Dia tunjukkan jalan kat kite.. amins

YanaMIB said...

wah info menarik wpn sis mcm apezs tu la..xlarat nk bc sume..haha~ *jujur gila*

tp xpernah nmpk lg quran versi braille ni..klu ada mmg alhamdulillah..ye lah kn quran bkn leh bc cemtu je..ada tajwid segala.. =)

ch!natsu said...

kan bgus klu dibanyakkan lagi al-quran braille nie..

::FAIZ FARISH:: said...

tabah btl dia.... dah buta tp tetap berusaha

H Y D E said...

nice info.. tahu braiile tapi tak tahu asal usulnya.. tQ~

latest : latest entry - Semalam Aku Kena Kacau(video)

Jom sihat tanpa ubat !

Takut nak makan ubat? ada alahan? atau memang tak makan ubat hospital? jangan risau jom sihat tanpa pil..Lepas tu nak makan apa untuk sih...